Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Barat Menyampaikan Sambutan Pada Kegiatan Akselerasi Implementasi ISPO 2026 

Pontianak- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia(GAPKI). Cabang Kalimantan Barat mendorong percepatan implementasi dan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. Rabu 19/08/2026.

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan Akselerasi Implementasi ISPO 2026. Sosialisasi dan klinik sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan Indonesia (ISPO) yang digelar di hotel Gorden Tulip Pontianak.

Kegiatan ini diikuti unsur Direktorat jenderal perkebunan kementerian pertanian, pemerintah Kalimantan Barat, GAPKI pusat, GAPKI cabang Kalbar, lembaga sertifikasi ISPO, perusahaan anggota GAPKI, internal auditor ISPO, tim Sustainability, legal, SMK3 serta pemangku kepentingan lainya.

Ketua GAPKI cabang Kalimantan Barat, Aris Supratman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya GAPKI mendorong pencapaian 100 persen sertifikasi ISPO bagi anggota GAPKI Kalimantan Barat, sekaligus meningkatkan pemahaman perusahaan terhadap regulasi dan implementasi ISPO.

Menurut Aris, ISPO tidak mestinya dipandang hanya sebagai kewajiban administratif atau persiapan menghadapi proses audit. Lebih dari itu, ISPO harus menjadi instrumen untuk memperbaiki tata kelola perusahaan, memperkuat sistem manajemen, meningkatkan kepatuhan, mengurangi resiko, serta memperkuat daya saing industri sawit.

” Tujuan kita bukan sekedar perusahaan mendapatkan sertifikat ISPO. Lebih jauh, prinsip-prinsip keberlanjutan harus benar-benar menjadi bagian dari budaya dan sistem kerja perusahaan “, ujurnya dalam sambutan kegiatan.

Aris menegaskan, kegiatan ini bukan sekedar sosialisasi yang diselenggarakan GAPKI cabang Kalbar tersebut tidak dimaksudkan berhenti pada sosialisasi regulasi.

Klinik ISPO diharapkan menjadi ruang pembelajaran, konsultasi, dan problem solving bagi perusahaan dalam mengidentifikasi berbagai kesenjangan atau gap yang masih dihadapi dalam penerapan. “Kita ingin kegiatan ini menjadi farum pembelajaran, konsultasi, dan problem solving”, katanya.

Agus Maharona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *