Sintang — Tim Sosialisasi dan Penyuluhan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Mabes TNI yang terdiri dari Kolonel Adm Sutikno, Letkol (K) Tri Wiyono dan Kapten Inf Nanang Cahyo menggandeng PT Sinar Sawit Andalan (PT SSA) untuk mengedukasi masyarakat di sekitar kawasan konsesi perusahaan mengenai pola bertani atau berladang menetap.
Langkah strategis ini dilakukan guna mendorong para petani tempatan beralih dari tradisi berladang berpindah (shifting cultivation) menjadi peladang menetap, demi menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem.
Kegiatan yang berlangsung di area perkebunan PT Sinar Sawit Andalan ini dihadiri oleh Kolonel Adm Sutikno, Letkol (K) Tri Wiyono, Kapten Inf Nanang Cahyo, Babinsa Koramil 1205-10/Ambalau, Senior Eksekutif Manajer PT SSA Sukino Suwito, Eksekutif Manajer Abdul Waris, serta karyawan perusahaan.
Kolonel Adm Sutikno selaku Ketua Tim Sosialisasi Karhutla Mabes TNI wilayah Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, menegaskan bahwa kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar pada sistem berladang berpindah dapat memicu kebakaran hutan dalam skala besar.
Oleh karena itu, pendekatan persuasif dan edukatif melalui pola pertanian berkelanjutan menjadi kunci penanggulangan Karhutla dari hulu.
“Kami tidak hanya melarang atau menegakkan hukum, tetapi juga memberikan solusi konkret. Peralihan dari ladang berpindah ke peladang menetap adalah langkah penting agar produktivitas ekonomi warga tetap berjalan tanpa merusak lingkungan,” ujar Kolonel Adm Sutikno di lokasi kegiatan.
Melalui kerja sama ini, PT Sinar Sawit Andalan turut berkomitmen mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan tanah tanpa bakar. Perusahaan berharap kolaborasi bersama TNI dapat menekan potensi titik api (firespot) di sekitar wilayah operasional.
Manajemen PT Sinar Sawit Andalan menyampaikan bahwa menjaga kelestarian alam sekitar merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
Dengan mengajarkan teknik olah tanah menetap, seperti pemanfaatan pupuk organik dan pembuatan komposter, warga dapat memanfaatkan satu petak lahan secara optimal dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat ini diharapkan menjadi percontohan (pilot project) pencegahan Karhutla berbasis pemberdayaan masyarakat di daerah rawan kebakaran lainnya.
pendim1205
Agus maharona












