Karawang Jawabarat Rangkaian acara yang digadang-gadang menjadi momentum perkenalan tersebut justru diwarnai tindakan yang amat dinilai jauh dari nilai, norma, dan etika dasar di lingkungan pendidikan.
Insiden mencengangkan terjadi saat jurnalis dari beberapa media salah satunya media Metrolima TV yang hadir di lokasi untuk melakukan peliputan. Dalam proses konfirmasi dan pertukaran identitas resmi, oknum calon Humas tersebut secara terang-terangan mengaku dan mengklaim dirinya sebagai wartawan dari media nasional Kompas TV. Pengakuan sepihak tanpa dasar legalitas yang sah ini tidak hanya mencoreng profesionalisme insan pers, tetapi juga memperlihatkan gestur kebohongan publik yang sangat tidak terpuji.
Sebagai bagian dari institusi pendidikan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai kejujuran, integritas, dan keteladanan, tindakan oknum tersebut dinilai sangat ironis dan tidak bermoral. Perilaku manipulatif ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, mengingat peran Humas sangat krusial sebagai wajah dan jembatan komunikasi sekolah dengan masyarakat luas.
Krisis Integritas Mengaku-ngaku sebagai insan pers dari media lain merupakan bentuk penipuan identitas yang merusak moralitas lembaga pendidikan.
Mencoreng Nama Sekolah Sikap tidak profesional sebelum resmi menjabat menunjukkan ketidaksiapan mental dan etika dalam mengemban amanah publik di SMAN 1 Rawamerta.
Pelecehan Profesi Jurnalis: Tindakan klaim sepihak ini mencederai hubungan kemitraan antara sekolah dan insan pers yang seharusnya saling menghormati aturan main jurnalistik.
Masyarakat dan awak media mendesak pihak pimpinan SMAN 1 Rawamerta beserta Dinas Pendidikan terkait untuk segera mengambil sikap tegas. Evaluasi total terhadap rekam jejak dan etika calon pejabat Humas tersebut harus dilakukan sebelum yang bersangkutan resmi dilantik, demi menjaga marwah dan nama baik sekolah di mata publik. (Mulyadi)












