Sintang— Jalan menuju Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, tak selalu ramah. Kabut dan deru debu menjadi bagian dari perjalanan menuju kawasan perbatasan negara. Namun, medan itu tak menyurutkan langkah tim penyuluh untuk menemui warga dan menyampaikan pesan sederhana: jangan lagi membuka ladang dengan membakar. Rabu 02/09/2026.
Desa Jasa yang berjarak sekitar 20 menit dari kawasan perbatasan negara kini memasuki masa tanam. Menurut Toda Desa Jasa, Yan Superti, kesadaran warga terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus tumbuh. “Saat ini sudah tidak ada lagi warga Desa yang membakar lahan,” ujarnya.
Yan mengatakan masyarakat adat sangat menghormati imbauan pemerintah. Petunjuk dan arahan mengenai pencegahan karhutla selalu disampaikan kembali kepada warga. Bagi masyarakat setempat, berladang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan, dilakukan secara bertahap dan tidak dalam skala besar.
“Adat sangat patuh terhadap imbauan pemerintah. Apa yang menjadi petunjuk dan arahan selalu kami hargai dan kami sampaikan kepada warga,” kata Yan.
Pesan pencegahan karhutla juga ditekankan bukan semata untuk menjaga hutan, tetapi menyangkut masa depan masyarakat. Asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, hingga ketenangan anak-anak dalam belajar. Karena itu, menjaga alam dipandang sebagai investasi bagi generasi berikutnya.
“Alam perlu kita jaga untuk masa depan anak-anak kita. Kalau terjadi kebakaran, kesehatan terganggu, perekonomian warga ikut terhambat, dan anak-anak tidak bisa bersekolah dengan tenang,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Penyuluhan turut dihadiri Kolonel Husein Setiawan, S.H., M.H., Mayor Cpl Robbi Chahyadi, S.H., Babinsa Koramil 05 Ketungau Hulu, Toda Desa Jasa Yan Superti, APD Sudiyanto, Ketua RT Jasa Martin Mundut, serta warga Desa Jasa.
Di tengah kabut dan jalan berdebu menuju perbatasan, pesan yang dibawa bukan sekadar larangan membakar. Ia menjadi ajakan untuk menjaga tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan—agar tetap memberi ruang bagi warga untuk hidup hari ini, sekaligus tetap sehat bagi anak-anak mereka di masa depan.
Agus maharona












