Sintang— Di Desa Sungai Pisau, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dilakukan dengan cara yang sederhana: mendatangi warga, berbicara langsung, dan mengingatkan bahwa menjaga alam berarti menjaga sumber kehidupan.
Tim Penyuluh TNI yang dipimpin Kolonel PM Husein Setiawan, S.H., M.H., didampingi Mayor Cpl Robbi Chahyadi, S.H., menyambangi masyarakat Desa Sungai Pisau untuk menyampaikan pentingnya pencegahan Karhutla. Warga diimbau agar tidak membuka ladang dengan cara membakar lahan, terutama ketika kondisi cuaca dan lingkungan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
“Kalau ingin membuka ladang, sebisa mungkin jangan dengan cara membakar. Kita hidup bergantung pada alam. Karena itu, alam harus kita sayangi agar tetap memberikan kehidupan bagi generasi berikutnya,” kata Kolonel Husein dalam penyuluhan tersebut.
Namun, pesan pencegahan itu juga tidak menutup mata terhadap kebutuhan pangan masyarakat. Bagi warga Sungai Pisau, berladang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendekatan yang dibangun adalah menjaga tradisi pengelolaan lahan yang telah berjalan, sekaligus memperkuat kesadaran agar aktivitas membuka lahan tidak berubah menjadi sumber bencana.
Tokoh masyarakat Desa Sungai Pisau, Tambi, mengatakan warga memahami bahwa alam selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. “Alam sudah membantu memenuhi kebutuhan kami sehari-hari dan menjadi sumber mata pencaharian. Karena itu, kami juga harus menjaganya,” ujarnya.
Patroli penyuluhan tersebut turut dihadiri Babinsa Koramil 05 Ketungau Hulu, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Januarius, tokoh masyarakat Tambi, serta warga Desa Sungai Pisau. Kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan sekadar menyampaikan pesan pencegahan Karhutla, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa mencegah Karhutla adalah tanggung jawab yang dimulai dari halaman, ladang, dan lingkungan sendiri.
Agus maharona










