Satgas Karhutla TNI Suluh Kelompok Tani Mekar Mandiri

Sintang— Dalam rangka memitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Satgas TNI memberikan penyuluhan kepada Kelompok Tani Desa Mekar Mandiri, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Hal tersebut disampaikan Ketua Kelompok Penyuluhan dan Pengendalian Karhutla Satgas TNI wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra P., S.T., M.M. usai melaksanakan tatap muka dengan Kelompok Tani Desa Mekar Mandiri, Kecamatan Kayan Hilir, Sintang, Kalbar, Jumat 04/09/2026.

Saptarendra mengungkapkan, kegiatan tatap muka dengan kelompok tani tersebut turut didampingi oleh Penyuluh Pertanian Desa Mekar Mandiri dan Kepala Adat Dusun Belimbing.

“Pada kesempatan itu, kami menyampaikan tentang risiko Karhutla, baik dampaknya terhadap kesehatan, kerusakan lingkungan, perekonomian, maupun proses belajar anak-anak di sekolah,” ujar Saptarendra.

Dari hasil diskusi, lanjutnya, diketahui bahwa sebagian masyarakat masih memandang pembakaran pohon dan sisa vegetasi di ladang sebagai salah satu cara untuk menyuburkan tanah.

“Jadi, pembakaran pohon menjadi salah satu upaya yang selama ini dilakukan peladang untuk menyuburkan tanah. Setelah menanam padi, mereka juga tidak menggunakan pupuk tambahan sehingga padi yang dihasilkan dianggap sebagai padi organik,” jelas Saptarendra.

Di tempat yang sama, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Mekar Mandiri, Yuliana Kartini,  mengatakan bahwa bersama kelompok tani pihaknya pernah melaksanakan program cetak sawah pada tahun 2017 dengan metode tanpa pembakaran pohon.

“Pada waktu itu, pohon ditimbun dalam kondisi utuh di sawah rawa yang kebetulan saat itu sedang tergenang karena hujan. Tanaman padi hanya ditanam dan dipanen satu kali dalam setahun. Ada yang berhasil panen dan ada juga yang tidak. Tidak menggunakan pupuk, seperti yang dilakukan masyarakat di sini,” ujarnya.

“Tahun 2018 juga ada yang berhasil panen dan ada yang tidak karena mengalami serangan hama. Hasil panen sawah rawa sekitar 2,7 ton per hektare. Tidak menggunakan pupuk karena masyarakat sudah terbiasa dengan pola pertanian padi organik,” lanjutnya.

Masih di tempat yang sama, Tokoh Adat Dusun Belimbing, Desa Mekar Mandiri, Bantot Banda, menyampaikan bahwa selama ini masyarakat setempat memanfaatkan hasil pembakaran pohon sebagai sumber bahan untuk menyuburkan tanah.

“Kami biasanya menggunakan hasil pembakaran pohon sebagai pupuk. Memang hasilnya tidak banyak karena sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Jadi, pembakaran pohon itu dilakukan untuk mendapatkan bahan yang dianggap dapat menyuburkan tanah,” ujar Bantot.

Ia menambahkan, apabila terdapat cara lain yang lebih baik untuk menyuburkan tanah, menghasilkan panen yang lebih baik, serta membutuhkan biaya yang lebih murah, masyarakat tentu akan mempertimbangkan untuk tidak lagi menggunakan pembakaran sebagai cara menyuburkan lahan.

“Kalau memang ada cara yang lebih baik, tentu kami tidak akan membakar pohon lagi sebagai pupuk penyubur tanah. Namun, jika belum ada alternatif yang sesuai dengan kondisi kami, tentu masyarakat masih akan kembali menggunakan sisa pembakaran pohon sebagai penyubur tanah,” pungkasnya.

Dalam pertemuan tersebut turut hadir Tim Penyuluh Satgas TNI, Kolonel Laut (Kh) Chumaidi dan Kolonel Kes Robi Mandolin, Sekretaris Desa Mekar Mandiri Rika Sugjanto, serta Babinsa Koramil 1205-17/Kayan Hilir. Sertu Daniel dan Serka Burhannudin.

 

 

Agus maharona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *