Kubu Raya— Upaya mencari solusi terhadap persoalan lahan gambut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta peningkatan produktivitas lahan terus dilakukan. Salah satunya melalui pengenalan dan pemanfaatan Bios 44, teknologi berbasis mikroba yang diharapkan mampu merekayasa kondisi tanah sehingga lebih produktif dan ramah terhadap lingkungan. Jumat (4/9/2026)
Dalam kegiatan tersebut, Danrem 121/Abw Brigjen TNI Purnomosidi, S.I.P., M.A.P., M.Han., mendampingi Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, S.I.P. dan Panhdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito S.I.P., M.Si., untuk memperkenalkan Bios 44 kepada jajaran TNI dan Polri, BNPB, mahasiswa pertanian, masyarakat, serta berbagai unsur terkait.
Sebanyak 400 kilogram Bios 44 dibawa ke wilayah Kalimantan untuk dimanfaatkan di tiga provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dalam penggunaannya, satu kilogram Bios 44 dapat dicampurkan dengan satu liter air sesuai metode yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
Bios 44 diaplikasikan dengan cara disiramkan ke tanah menggunakan teknologi mikroba bakteri yang dicampurkan dengan air. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, khususnya lahan gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi.
Mendorong Restorasi Lahan Gambut
Pemanfaatan Bios 44 diarahkan untuk mendukung proses restorasi lahan gambut dengan merekayasa kondisi tanah agar tingkat keasamannya dapat ditekan. Selain itu, teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pemanfaatan air serta mendorong terbentuknya kondisi tanah yang lebih mendukung bagi berbagai sektor produktif.
Dengan perbaikan struktur dan kondisi tanah, pemanfaatannya tidak hanya ditujukan untuk sektor pertanian, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap perikanan, perkebunan, dan sektor lainnya yang bergantung pada kualitas lahan.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan bahwa Bios 44 telah masuk dalam kategori produk lokal nasional dan dikembangkan sebagai salah satu inovasi yang belum dimiliki oleh pihak lain.
Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menekankan bahwa penanganan persoalan di lapangan tidak hanya berbicara mengenai masyarakat yang membutuhkan pertolongan, tetapi juga kondisi para personel dan relawan yang berada di garis depan.
Menurutnya, berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan bencana dan persoalan lingkungan, mulai dari TNI, Polri, Gegana, relawan hingga lembaga terkait, harus mendapatkan perhatian.
“Kita sibuk sama yang ditolong, tapi kita tidak memikirkan sama yang menolong. Teman-teman kita dari TNI, Polri, Gegana, relawan dan semua lembaga yang turut membantu, dirinya harus dipastikan sehat dulu, baik sehat pikiran maupun fisik.”
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan penanganan bencana dan karhutla. Sebab, keberhasilan sebuah operasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan metode yang digunakan, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang berada di lapangan.
Pemanfaatan Bios 44 juga diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Rekayasa struktur tanah menjadi salah satu fokus yang akan diperhatikan untuk mencari metode penyelesaian yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut akan menjadi bagian dari kontrol dalam melihat dan menata struktur tanah, sekaligus mencari metode yang tepat dalam penyelesaian persoalan karhutla di Kalimantan Barat.
“Ini akan menjadi kontrol kerja saya dalam penataan struktur tanah, bagaimana metode penyelesaian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat ini.”
Dengan membawa Bios 44 ke Kalimantan dan melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat, pemerintah, akademisi hingga masyarakat, diharapkan inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap pengenalan. Teknologi ini diharapkan dapat diuji dan dimanfaatkan secara nyata untuk membantu memperbaiki kondisi lahan sekaligu
Agus maharona












